KESETIAAN MEMBAWA KITA KEPADA PROMOSI

 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.

Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Lukas 16:1

Dari ayat tersebut di atas, kita memahami bahwa Tuhan Yesus tidak pernah mempromosikan para murid-Nya dan umat-Nya dengan cara yang instan, cepat dan tanpa halangan. Formula bagi yang ingin mendapatkan kepercayaan dalam perkara-perkara yang besar, adalah dengan menunjukkan kesetiaan terhadap perkara-perkara yang kecil.

Kesetiaan di dalam perkara-perkara yang Yesus percayakan baik itu dalam hal pelayanan, pekerjaan, bisnis, studi, atau penggembalaan pada saat ini; akan membuahkan promosi untuk perkara-perkara yang lebih besar di masa yang akan datang :

Yusuf memulai karirnya sebagai budak di rumah Potifar yang berada di Mesir.

Daud memulai profesi sebagai penggembala domba di padang gurun.

Daniel memulai karirnya sebagai pramusaji istana di kerajaan Babilonia.

Alkitab dengan jelas menuliskan awal riwayat karir anak-anak Tuhan, untuk menyadarkan kita bahwa Tuhan tidak pernah dengan instan memberikan perkara-perkara besar kepada anak-anak-Nya.

Kesetiaan yang Yusuf, Daud dan Daniel tunjukkan dalam berbagai perkara yang dipercayakan kepada mereka, membawa mereka kepada promosi karir yang maksimal bagi dirinya, di mana :

•  Yusuf menjadi orang yang memiliki otoritas setelah Firaun di tanah Mesir,

•  Daud menjadi Raja yang hebat bagi Israel selama 40 tahun serta Israel mengalami masa-masa kejayaan.

•  Daniel menjadi Perdana Menteri yang penuh dengan hikmat pada masa pemerintahan Raja Darius di Babilonia.

Mereka ada pada posisi dan karir yang maksimal bukan karena hanya dengan membalikkan tangan, melainkan dengan menunjukkan kesetiaan di hadapan Allah. Mimpi yang besar, angan-angan yang hebat, pelayanan yang besar dan perkara-perkara yang besar akan menjadi kenyataan, jika di dalamnya kita menunjukkan kesetiaan kepada Yesus Kristus.

Beberapa ciri yang menyertai seseorang yang tetap berada dalam jalur kesetiaan untuk sampai pada promosi yang Yesus janjikan menjadi nyata.

1. Tetap Setia Sekalipun Tidak Tahu Kapan Waktunya Promosi Terjadi

Dalam kitab Kejadian 37:5–10 kita menemukan kisah tentang mimpinya Yusuf yang disampaikan kepada saudara-saudaranya dan ayahnya yaitu Yakub. Bahkan di dalam ayat 10 ayahnya berkomentar, “Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?”

Visi tentang promosi itu membangkitkan amarah dan ejekan dari orang-orang di sekitarnya, tetapi membuat Yusuf tahu tentang apa yang akan Tuhan kerjakan atas hidupnya. Kapan mimpi itu menjadi kenyataan? Tidak ada seorang pun yang tahu. Sekalipun setelah itu yang dialami oleh Yusuf sama sekali bertolak belakang dari mimpinya; Yusuf tetap setia dengan perkara-perkara yang dipercayakan kepadanya; bahkan sekalipun hanya profesi sebagai budak.

Di dalam I Samuel 16:12-13, Tuhan memerintahkan Samuel untuk mengurapi Daud supaya menjadi raja yang akan datang, namun setelah di urapi Daud masih kembali menggembalakan kambing dombanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kapan pengurapan menjadi raja itu menjadi kenyataan? Tidak ada yang tahu. Yang Daud lakukan hanya setia mengerjakan apa yang saat itu Tuhan percayakan kepadanya untuk dikerjakan.

Tetaplah setia dengan apa yang sedang Tuhan percayakan saat ini, walaupun tidak tahu kapan promosi itu akan menjadi kenyataan atas hidup kita. Kesetiaan menghasilkan ketekunan dalam melakukan segala perkara yang saat ini sedang Yesus percayakan untuk dikerjakan, dilakukan dan dikembangkan. Waktu Tuhan selalu tepat, yaitu saat Tuhan melihat diri kita sudah tepat waktunya untuk menerima perkara-perkara yang lebih besar.

2. Tetaplah Setia Di mana Engkau Ditanam

Setelah mendapatkan mimpi bahwa Yusuf akan menjadi penguasa dan semua saudara-saudaranya akan menyembah kepada dia, maka Allah menanam Yusuf untuk memulai perjalanan visi-Nya dengan menjadi budak di tanah Mesir (Kejadian 37:28).

Dalam Mazmur 105:17 dijelaskan: “diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak.”

•  Yusuf ditanam di keluarga Potifar sebagai seorang budak, yang mengerjakan pekerjaan yang kasar, biasa dan sehari-hari. Dia setia mengerjakan perkara yang sekecil itu.

•  Daud ditanam oleh Tuhan sebagai penggembala kambing – domba yang hanya beberapa ekor saja, jauh dari keramaian, jauh dari panggung popularitas, jauh dari tepuk tangan dan sorak sorai pujian, tidak ada apresiasi dan kesendirian di tengah padang rumput, tetapi dia setia dalam perkara yang sekecil itu.

Kesetiaan haruslah tetap menjadi yang dominan sekalipun sedang berada di tengah-tengah situasi dan keadaan yang jauh dari promosi yang Tuhan janjikan. Tetaplah setia dan bertumbuh, sampai menghasilkan buah yang baik dan berkenan di hadapan-Nya.

3.         Tetaplah Setia dengan Tunduk Pada Otoritas

Seorang pemberontak terhadap otoritas tidak akan pernah menjadi pemimpin yang kharismatik, disegani, diteladani dan dihormati bahkan mendapatkan perkenanan Tuhan. Pemberontakan akan menimbulkan perselisihan, percekcokkan, bahkan menghancurkan ke-unity-an yang diinginkan oleh Yesus Kristus. Salah satu ekspresi kesetiaan adalah sikap tunduk kepada otoritas.

Sebelum Daud diteguhkan oleh tua-tua suku Israel untuk menjadi raja atas seluruh Israel, dia tunduk pada otoritas yang ada yaitu raja Saul. Dalam I Samuel 26:5–9, dikisahkan pada waktu Saul sedang tertidur bersama panglima perangnya, Daud punya kesempatan untuk melenyapkan Saul, bahkan Abisai memberikan dukungannya dengan mengutip ayat-ayat dengan tujuan supaya Daud membunuh Saul. Tetapi Daud menunjukkan bahwa dirinya tetap tunduk pada otoritas dengan tidak mau mengusik orang yang diurapi Tuhan. Peristiwa itu bahkan sampai terulang sekali lagi.

Kesetiaan mengajar kita untuk tunduk pada otoritas yaitu siapa pun pemimpin yang Tuhan tetapkan untuk berada di atas kita. Sekalipun Saul sudah berkali-kali berupaya membunuh Daud, tetapi kesetiaan memampukan Daud untuk tetap meghormati Saul.

4.         Tetap Setia dengan Tidak Kecewa Atas Realitas

Kekecewaan adalah sikap hati yang akan meracuni dan menghancurkan komitmen kesetiaan terhadap kebenaran firman Tuhan. Banyak peristiwa dan kejadian yang bisa mengecewakan kita; jika kita mengijinkan kekecewaan itu masuk dalam hati.

Yusuf bisa menjadi kecewa karena difitnah berkelakuan amoral oleh isteri Potifar, sehingga karena fitnahan itu dia harus masuk penjara. Daud juga bisa menjadi kecewa, sebab kesetiaannya kepada Saul dibalas dengan upaya untuk membunuh dia.

Semua kejadian yang tidak seperti diharapkan bisa menjadi pintu kekecewaan bagi diri kita, tetapi orang-orang yang dipromosikan oleh Allah seperti Yusuf dan Daud tidak membiarkan benih kekecewaan itu tertanam dalam hatinya.

Jika realitas yang sedang Anda hadapi pada hari-hari ini jauh dari mimpi dan janji yang Tuhan berikan, tetaplah tanam benih kesetiaan dalam segala perkara, maka Anda akan menuai benih yang Anda tabur dan Tuhan akan membawa ke tempat di mana Dia mau supaya kita berada.

Hiduplah dengan kesetiaan di dalam segala perkara-perkara kecil yang sedang Tuhan sediakan untuk Anda kerjakan, berdirilah teguh atas firman-Nya serta dengan setia melakukan yang terbaik, sampai tiba saatnya Matius 25:23 “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Janji Tuhan di depan kita ada tuaian yang besar dan Kemuliaan yang besar akan dinyatakan pada umat-Nya, setiap orang yang telah menunjukkan kesetiaannya, dialah yang akan dipercayakan perkara-perkara yang lebih besar.

[AEN]